Mentari sore menyisakan semburat jingga di ufuk barat, namun suasana Sekte Api Langit jauh dari kedamaian senja. Kesibukan para murid, guru, dan tetua yang mempersiapkan ritual penghormatan bagi mendiang Ketua Sekte berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Udara berdesir, dipenuhi bisikan-bisikan cemas yang tak terdengar, namun terasa menusuk.

"Kenapa mereka belum kembali?" Kata salah satu tetua merasa cemas karena beberapa guru dan tetua yang pergi memeriksa kedatangan penyusup belum ada berita hingga saat ini.

Begitu Ling Mei dan lainnya tiba di halaman sekte, beberapa tetua yang melihat Ling Mei langsung menghampiri. Ekspresi mereka bercampur antara keterkejutan dan kebahagiaan meski ketegangan masih terlihat di wajah mereka.

"Ling Mei… kau sudah sadar! Syukurlah, kami sempat mengira kau tak akan bertahan," ujar seorang tetua pria dengan rambut panjang yang sebagian telah memutih.

Leena mengangguk hormat. "Salam, para Tetua. Maaf telah membuat kalian khawatir."

Para tetua tampak lega, meskipun wajah mereka masih dipenuhi kelelahan. Energi mereka belum sepenuhnya pulih setelah diserap oleh Shen Mo, ditambah lagi tragedi yang menimpa Sekte Api Langit.

Seorang wanita paruh baya dengan sorot mata tajam menatap Ling Mei lekat-lekat, lalu mengalihkan pandangannya pada Lynx. "Bagaimana bisa dia pulih secepat ini? Racun Penyedot Jiwa bukanlah sesuatu yang mudah disembuhkan. Bahkan jika ada penawarnya, butuh waktu lama untuk pulih sepenuhnya…"

Lynx merasakan kecurigaan dalam nada bicaranya, tetapi ia tetap tenang. Dengan ekspresi datar, ia menjawab, "Aku hanya membawakan obat dari Walikota Huoling. Itu pun atas permintaan Li Wei. Aku tidak tahu bagaimana proses penyembuhannya, yang jelas dia sudah pulih."

Li Wei segera menimpali, "Benar. Aku menghubungi ayahku untuk mengirimkan obat yang awalnya disiapkan untuk kakakku. Tapi karena kakakku sudah sembuh, obat itu akhirnya diberikan kepada Kak Ling Mei. Aku pun tak menyangka pemulihannya akan secepat ini."

Seorang tetua lain menghela napas, lalu berkata, "Yang terpenting sekarang, Ling Mei sudah pulih. Kita seharusnya bersyukur, bukan malah meributkan hal ini. Dan juga, kita harus berterima kasih pada Walikota Huoling. Kebaikannya akan selalu kami ingat."

Namun sebelum ada yang sempat menanggapi, suara gaduh dari arah gerbang utama mengguncang seluruh bangunan.

"Siapkan pertahanan! Penyusup telah memasuki sekte!" teriak seorang murid jaga dengan panik.

Tanpa ragu, para tetua dan guru yang tersisa segera bergegas menuju gerbang utama, siap menghadapi ancaman yang datang.

Leena yang hendak bergerak maju ikut bertarung, tiba-tiba merasakan lengannya ditahan oleh Lynx.

"Ling Mei, tunggu," ujar Lynx dengan suara rendah namun penuh ketegasan.

Leena menatapnya dengan bingung. Ia bisa merasakan betapa seriusnya tatapan Lynx, namun situasi saat ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk hanya berdiri diam.

Namun, sebelum ia sempat membantah, Lynx berbisik dengan suara dalam, "Ada lima grandmaster yang datang. Guru dan para tetua belum sepenuhnya pulih, mereka tidak akan mampu menahan serangan seperti ini."

Leena terkejut, tetapi ia tahu Lynx tidak pernah berbicara tanpa alasan. Jika dia bisa merasakan kehadiran lawan yang begitu kuat, maka situasi ini jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat.

"Kita harus menyusun strategi. Jika kita bertindak gegabah, kita hanya akan menjadi beban," lanjut Lynx, matanya menyipit penuh kewaspadaan.

Leena menggigit bibirnya. Ia ingin bertarung, ingin membela sektenya, tetapi dia juga tahu bahwa dalam kondisi sekarang, mereka perlu bertindak dengan cerdas. Dengan cepat, ia memberi isyarat pada Lala dan bergerak menuju ruangan tersembunyi.

Li Wei yang melihat mereka pergi merasa bingung. Kakak seperguruannya yang biasanya selalu berada di garis depan, kini justru memilih mundur. Namun, sesuatu dalam ekspresi mereka membuatnya yakin ada alasan di balik keputusan itu.

Tanpa berpikir lebih jauh, Li Wei segera menyusul mereka.

Langit di atas Sekte Api Langit semakin gelap, seolah-olah malam turun lebih awal. Awan hitam berputar liar, memancarkan tekanan mengerikan yang menyelimuti seluruh area. Murid-murid sekte merasakan bulu kuduk mereka berdiri, sementara udara dipenuhi dengan aura kematian.

Di gerbang utama, lima sosok berjubah hitam berdiri dengan tenang, namun aura mereka menekan siapa pun yang berani menatap langsung. Salah satu dari mereka, pria bertubuh besar dengan wajah penuh bekas luka, melangkah ke depan. Tatapannya penuh ejekan saat ia melihat para murid yang bergetar ketakutan.

“Hah! Serangga-serangga sepertimu ingin menghalangi kami?” suaranya menggelegar, mengguncang tanah di bawahnya. “Beri tahu kami siapa yang bertanggung jawab di sini, atau aku akan menghancurkan tempat ini dalam sekejap!”

Di sampingnya, seorang wanita bertopeng perak tertawa ringan. Suaranya lembut, tetapi penuh dengan kesan menghina. “Ah, sepertinya ketua sekte kalian sudah tiada, bukan? Kalau begitu, seharusnya kalian paham bahwa tak ada alasan untuk menolak permintaan kami.”

Seorang tetua maju, wajahnya tetap tenang meski keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Kami para tetua yang memimpin sekte ini sekarang. Katakan apa tujuan kalian!”

Seorang pria kurus berambut panjang dengan mata tajam seperti ular berbicara dengan suara sedingin es. “Kami tidak ingin membuang waktu. Serahkan kunci dimensi kepada kami.”

Suasana seketika berubah mencekam. Para murid saling berpandangan, kebingungan sekaligus panik. Apa yang dimaksud dengan kunci dimensi? Tak satu pun dari mereka tahu, tetapi tekanan dari kelima orang itu membuat napas mereka tersengal.

Salah satu tetua melangkah lebih dekat, tatapannya tak gentar. “Kami tidak tahu apa yang kalian maksud! Sekte ini tidak memiliki benda seperti itu!”

Pria bertubuh besar itu menyeringai sinis. “Oh? Kau yakin?”

Dalam sekejap, ia menghentakkan kakinya ke tanah.

BOOM!

Gelombang kejut luar biasa menyebar ke segala arah! Tanah merekah, bebatuan beterbangan, dan murid-murid yang lebih lemah terlempar ke udara sebelum jatuh dengan keras, merintih kesakitan. Debu mengepul, menciptakan suasana kacau di dalam sekte.

Wanita bertopeng perak melangkah santai melewati puing-puing yang berserakan. Tangannya terangkat perlahan, dan dari bawah kakinya, bayangan hitam merayap ke segala arah seperti makhluk hidup, menyelimuti bangunan-bangunan utama sekte. Getaran aneh mulai terasa, seolah sesuatu yang jauh lebih mengerikan akan segera terjadi.

"Jika kalian tidak mau berbicara," ujarnya dengan nada lembut yang menakutkan, "maka kami akan menghancurkan sekte ini."

Salah satu grandmaster fana, pria berambut putih dengan tatapan tajam, melangkah ke depan. Dengan satu gerakan tangan, energi hitam menyelimuti aula utama sekte. "Kalian semua sudah mendengarnya. Kami tidak punya banyak waktu untuk bermain-main dengan kalian. Serahkan kunci dimensi, atau sekte ini akan kami hancurkan sepenuhnya!"

Kelima Grandmaster yang menyerang menyadari bahaya yang mengancam mereka jika berlama-lama di tempat ini. Awalnya kedatangan mereka adalah untuk mencari informasi mengenai kedua anggota utama mereka, Bai Xu dan Yang Fei, yang berada di tingkat immortal dan membantunya. Kedua immortal tersebut menuju sekte Api Langit untuk memaksa ketua sekte mereka yang berada di tingkat Grandmaster Langit untuk menyerah dan memberikan kunci dimensi untuk membuka dunia kecil di mana fragmen senjata iblis di segel. Mereka terpaksa menyerang dengan terang-terangan karena beberapa fragmen senjata iblis sudah didapatkan pihak lain sehingga ketua sekte Kegelapan marah besar.

Namun setibanya di lokasi yang seharusnya menjadi tempat persembunyian kedua immortal tersebut, mereka sudah terlambat. Kedua immortal tersebut sudah berangkat hari sebelumnya bersama rekan mereka yang lainnya dan belum kembali.

Mereka berlima tidak mengetahui jika kedua immortal dan seorang grandmaster rekan mereka telah binasa. Anak buah mereka yang lainnya berpencar melarikan diri karena trauma dan ketakutan melihat kekuatan orang misterius yang dapat membunuh kedua immortal dengan mudah.

Saat mencari keberadaan kedua immortal tersebut mereka, mendapatkan berita mengenai kematian ketua sekte Api Langit dan gosip hilangnya kekuatan para tetua mereka karena sebuah serangan dari musuh.

Mereka juga mendapatkan kabar, leluhur mereka, mantan ketua sekte sebelumnya belum terlihat kembali, serta bala bantuan dari kerajaan yang sedang di perjalanan. Tanpa membuang waktu, mereka segera berangkat menuju Sekte Api Langit agar tidak kehilangan kesempatan berharga.

